

Namun, kini keberadaan aksara Jawa sudah tergusur seiring dengan tidak lagi digunakannya bahasa Jawa sebagai media komunikasi. Menurut penelitian BAPEDA DIY (2004 : 73-74) mengenai pembelajaran bahasa Jawa, didapatkan bahwa 93% guru di SD dan SMP hanya menggunakan metode ceramah dalam penyampaian materi pembelajaran aksara Jawa. Media pembelajaran pun terbatas pada media tradisional seperti gambar dinding dan kaset tembang sehingga diperlukan perubahan pembelajaran aksara Jawa yang terus menerus dari tahap perencanaan pembelajaran sampai dengan evaluasi dan remedial teaching.
Dari sinilah kami melihat peluang usaha untuk menawarkan konsep yang dapat mengenalkan aksara Jawa dengan sangat menarik terutama untuk siswa sekolah dasar. Tempat yang menjadi sasaran awal dari program ini adalah sekolah-sekolah dasar yang terdapat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut Data Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia Dinas Propinsi DI Yogyakarta Periode 2011/2012, jumlah SD/MI di lima kabupaten/kota di DI Yogyakarta yaitu sebanyak 2.068 sekolah dengan total siswa 295.486.
Kesempatan lebar ini kami tuangkan dalam Takwa (Taman Aksara Jawa), sebuah inovasi pembelajaran dalam memperkenalkan aksara Jawa dengan cara yang unik dan menyenangkan sehingga dapat membangkitkan kecintaan anak akan kebudayaan khususnya kebudayaan Jawa. Konsep ini berisi boneka yang berbentuk aksara Jawa yang memuat nilai-nilai filosofi aksara Jawa. (ik)


0 komentar:
Posting Komentar